Gerakan Indonesia Tanpa JIL merebak di seantero tanah air. Gerakan
ini lahir spontan melalui berbagai saluran semisal Facebook dan
Twitter. Fauzi Baadila, seorang aktor film, pemain sinetron dan juga
modelpun lantang bersuara menolak keberadaan Jaringan Islam Liberal
(JIL) beserta pemikiran-pemikiran sesat lainnya. Fauzi Baadila memang
mengakui dirinya masih ”begajulan” tetapi memiliki komitmen yang kuat
dalam membela Islam dan melawan pemikiran liberal. Melalui akun
Twitternya, Fauzi Baadila mengatakan ”Agama sudah sempurna kok
diacak-acak, aneh, bukannya sok tahu, tapi kecewa aja, kalau mau
rusak-rusak saja sendiri, jangan ajak-ajak orang lain”.
Apa
yang dilakukan Fauzi Baadila tersebut lantas mendapatkan dukungan
berbagai pihak. Seorang pemain film tak selamanya tidak peduli terhadap
agama yang diyakininya. Hal ini tentu menjadi tamparan bagi
intelektual-intelektual muslim, kalangan terdidik dan berpendidikan yang
hanya diam saja melihat sepak terjang aktivis JIL dengan penyebaran
pemikiran-pemikiran liberalnya tanpa ada usaha untuk membendung dan
meluruskan padangan-pandangan sesat tersebut. Memang, tak semua, tapi
teramat sedikit yang serius dari kalangan anak-anak muda yang menolak
pemikiran liberal dengan semangat intelektual tinggi.
Liberalisme
adalah sebuah pemikiran. Maka, melalui pemikiran pula kita mesti
melawannya. Salah satu contoh pemikiran JIL diantaranya meragukan
kandungan Al-Quran, menghalalkan pernikahan sejenis, menganggap semua
agama sama dll. Dan untuk bisa melakukan perlawanan tersebut, tak lain
tak bukan mesti dengan ilmu. Sehingga argumentasi-argumentasi Islam yang
lurus bisa dikedepankan dengan dalil-dalil sesuai Al-Quran dan Hadist
dalam bingkai Islam Kaffah.
Dalam
perlawanan terhadap paham liberal ini, seorang tokoh muda, master
pemikiran Islam lulusan Universitas Ibnu Khaldun perlu dicontoh. Akmal
Syafril, seorang tokoh muda Islam menulis buku berjudul ”Islam Liberal
101” yang secara tegas dengan argumentasi-argumentasi ilmiah melawan
pemikiran-pemikiran liberal.
Helvy
Tiana Rosa, pendiri Forum Lingkar Pena memberi komentar bagus dalam
buku tersebut "Tradisi intelektual yang bagus dan perlu dilanjutkan;
membantah pemikiran dengan pemikiran, dengan argumen yang cerdas
sehingga pembaca menjadi lebih kaya". Rasanya memang begitulah yang
mesti kita lakukan. Melakukan perlawanan terhadap sebuah pemikiran juga
dengan tradisi ilmiah seperti menulis buku bantahan. Dengan demikian
umat ini menjadi tercerahkan dan tidak bingung dengan beragam
informasi-informasi yang menyesatkan, apalagi di era teknologi informasi
pesat sekarang ini.

Ketika Rasulullah Saw. menantang berbagai keyakinan bathil dan pemikiran rusak kaum musyrikin Mekkah dengan Islam, Beliau dan para Sahabat ra. menghadapi kesukaran dari tangan-tangan kuffar. Tapi Beliau menjalani berbagai kesulitan itu dengan keteguhan dan meneruskan pekerjaannya.
BalasHapus