Jumat, 23 Maret 2012

indonesia tanpa JIL

Gerakan Indonesia  Tanpa JIL merebak di seantero tanah air. Gerakan ini lahir spontan melalui berbagai saluran semisal Facebook dan Twitter.  Fauzi Baadila, seorang aktor film, pemain sinetron dan juga modelpun lantang bersuara menolak keberadaan Jaringan Islam Liberal (JIL) beserta pemikiran-pemikiran sesat lainnya. Fauzi Baadila memang mengakui dirinya masih ”begajulan” tetapi memiliki komitmen yang kuat dalam membela Islam dan melawan pemikiran liberal.  Melalui akun Twitternya, Fauzi Baadila mengatakan ”Agama sudah sempurna kok diacak-acak, aneh, bukannya sok tahu, tapi kecewa aja, kalau mau rusak-rusak saja sendiri, jangan ajak-ajak orang lain”.

Apa yang dilakukan Fauzi Baadila tersebut lantas mendapatkan dukungan berbagai pihak. Seorang pemain film tak selamanya tidak peduli terhadap agama yang diyakininya. Hal ini tentu menjadi tamparan bagi intelektual-intelektual muslim, kalangan terdidik dan berpendidikan yang hanya diam saja melihat sepak terjang aktivis JIL dengan penyebaran pemikiran-pemikiran liberalnya tanpa ada usaha untuk membendung dan meluruskan padangan-pandangan sesat tersebut. Memang, tak semua, tapi teramat sedikit yang serius dari kalangan anak-anak muda yang menolak pemikiran liberal dengan semangat intelektual tinggi.

Liberalisme adalah sebuah pemikiran. Maka, melalui pemikiran pula kita mesti melawannya. Salah satu contoh pemikiran JIL diantaranya meragukan kandungan Al-Quran, menghalalkan pernikahan sejenis, menganggap semua agama sama dll. Dan untuk bisa melakukan perlawanan tersebut, tak lain tak bukan mesti dengan ilmu. Sehingga argumentasi-argumentasi Islam yang lurus bisa dikedepankan dengan dalil-dalil sesuai Al-Quran dan Hadist dalam bingkai Islam Kaffah.

Dalam perlawanan terhadap paham liberal ini, seorang tokoh muda, master pemikiran Islam lulusan Universitas Ibnu Khaldun perlu dicontoh. Akmal Syafril, seorang tokoh muda Islam menulis buku berjudul ”Islam Liberal 101” yang secara tegas dengan argumentasi-argumentasi ilmiah melawan pemikiran-pemikiran liberal.

Helvy Tiana Rosa, pendiri Forum Lingkar Pena memberi komentar bagus dalam buku tersebut "Tradisi intelektual yang bagus dan perlu dilanjutkan; membantah pemikiran dengan pemikiran, dengan argumen yang cerdas sehingga pembaca menjadi lebih kaya". Rasanya memang begitulah yang mesti kita lakukan. Melakukan perlawanan terhadap sebuah pemikiran juga dengan tradisi ilmiah seperti menulis buku bantahan. Dengan demikian umat ini menjadi tercerahkan dan tidak bingung dengan beragam informasi-informasi yang menyesatkan, apalagi di era teknologi informasi pesat sekarang ini.

1 komentar:

  1. Ketika Rasulullah Saw. menantang berbagai keyakinan bathil dan pemikiran rusak kaum musyrikin Mekkah dengan Islam, Beliau dan para Sahabat ra. menghadapi kesukaran dari tangan-tangan kuffar. Tapi Beliau menjalani berbagai kesulitan itu dengan keteguhan dan meneruskan pekerjaannya.

    BalasHapus